Menjelang Masa Terbentuknya Negeri


https://www.youtube.com/watch?v=sJEWnU3mybs
Kota Hiroshima dibom atom oleh sekutu Amerika menjadi halaman utama seluruh media surat kabar dan radio. Moral semangat Jepang seketika runtuh bersama bom kedua yang akhirnya ikut meluncur tiga hari kemudian di atas kota Nagasaki. Sejarah dunia itu mengangkat kepercayaan diri bangsa untuk merdeka. Detik-detik proklamasi memekik, para pemuda berdesakkan menghapus sisa-sisa kejayaan seluruh penjajah. Kini semua riuh, meyorakkan suara hasrat merdeka.

Para tentara Jepang di luar markas hanya bisa menatap bisu. Tak ada yang bisa mereka lakukan setelah terdengar kabar di radio bahwa Jepang menyerah. Selanjutnya Sutan Syahrir berkeliling kota memberitakan suara kemerdekaan. Orang-orang membentuk ekspresi terkejut pada saat itu. Samsul dan Amil yang bersahabatan loncat-loncatan di pinggir sungai yang kemudian, tercebur ke dalamnya.

Malam itu juga, Samsul dan Amil mengatur strategi untuk ikut bergerak agar Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka teguh berkeinginan untuk membimbing pemuda lainnya untuk ikut bersorak.

“Malam ini, kita akan mengumpulkan prajurit siap demonstrasi,” ujar Samsul tegas ke Amil.
                                                        
“Setuju!”

Malam selanjutnya, Amil mencuri Minerva milik Babenya. Ia dan Samsul mengendap-endap menyalakan motor tersebut, kemudian berkelilinglah mereka. Satu persatu pintu rumah diketuk untuk bertemu teman-teman karib. Mereka bersemangat menanggapi ajakan Samsul dan Amil. Tepat pukul 12 malam, mereka semua berkumpul di pendopo desa. Rapat dadakan ini hampir saja selesai, tapi Babe Amil mendadak muncul di tengah pertemuan itu.

Babe Amil bersama isterinya tampak marah. “Buruan pulang! Enak aja lu ya, main ngambil-ngambil motor Babelu segala!” Nyak Amil langsung menarik telinga Amil sambil keluar Pendopo.

“Ah! Ampun, Nyak!” seruan miris Amil mengundang tawa teman-temannya. Diputuskan sudah dari hasil rapat malam itu, bahwa besok pagi-pagi sekali

mereka akan menyerbu sisa-sisa para penjajah. Mereka akan mencabut poster-poster



bekas penganiayaan; mencoret berbagai grafiti yang pro terharap perintah-perintah penjajah; bahkan bendera akan mereka robek.

Pagi itu pun tiba. Mereka berbondong-bondong menyeka bersih seluruh sisa-sisa penjajah. Pada akhirnya, mereka sampai pada tiang bendera berwarna merah, putih, dan biru itu. “Robek warna biru!,” salah satu pemuda berseru. Seketika mereka semangat mengatur formasi laksana pencakar langit. Bersiap mengeraskan otot pundak yang akan saling menopang satu sama lain. Mereka tumpuk-tumpukan perlahan hingga mencapai ujung tiang bendera. Kini saatnya Samsul untuk naik ke puncak tertinggi.

Jumlah pemuda yang saling menopang adalah lima orang. Untung saja bendera milik bangsa Belanda tidaklah tinggi. Meski keringat mereka bercucuran, namun mereka tetap bertahan. Samsul bergerak cepat merobek lapisan warna biru bendera dengan gunting raksasa. Setelah itu, bendera berhasil dirobek, “YEAHHH!!” semua orang bersorak. Samsul asal melempar kain biru bendera tersebut di udara. Sedangkan warna merah dan putih yang tersisa, gagah diembus angin.

Jepang menyerah kepada sekutu. Bendera penjajah berhasil dirobek. Demonstrasi ini belum selesai karena proklamasi belum terlaksana. Negeri ini memang butuh generasi pejuang. Tidak cukup untuk sekadar riuh bersuara, pertempuran selalu ada di depan mata.

Setelah semuanya bubar, seorang wanita dari kejauhan berjalan cepat ke arah Samsul. Ia adalah Marsha, mahasiswi berkebangsaan Belanda yang sangat akrab dengan Samsul.

Plak! Tangan perempuan itu mendarat kasar di pipi kiri Samsul. “Maksud kamu apa? Hah!? Bendera itu pusaka, tau nggak?” “Aku...” Samsul tidak mampu berkata-kata

“Kamu boleh benci sama negara saya, tapi kamu nggak bisa seenaknya merobek aset milik negara saya. Sakit hati, tau nggak!?” Samsul masih menatap perempuan itu sunyi. “Aku akan segera kembali ke Belanda. Aku akan tinggal di sana, negeriku yang belum aku kenal.”



Marsha sejak lahir tinggal di Indonesia. Kedua orang tuanya adalah penjajah berkebangsaan Belanda. Setelah perang berakhir, mereka akan segera kembali ke Negeri Belanda. Perempuan asing yang sudah menjadi teman akrab Samsul sejak kecil, diam-diam Samsul jatuh cinta kepadanya.

“Tunggu!” Samsul menarik lengan perempuan itu sebelum pergi dari hadapannya. “Kamu bisa tinggal.”

“Nggak bisa, Sul.” Perempuan itu menatapnya kesal. Matanya mulai berkaca-kaca. Sejak perseteruan dengan Marsha, Samsul tidak lagi semangat menyuarakan

kemerdekaan. Teman-temannya kesal kepadanya. Rasa marah itu juga ia curahkan

kepada dirinya sendiri meski ia juga cinta kepada Marsha. Perempuan berambut

pirang itu memang sangat menawan. Seandainya saja mereka tidak berbeda

kebangsaan. Cinta itu terasa salah.

*

Amil nyaris meninju wajah Samsul yang terpojokkan ke dinding. “Jangan coba-coba kamu kabur dari negara ini, Sul.”

Samsul menatap sahabatnya penuh khilaf. Amil hanya ingin memperjuangkan negara ini, namun tanpa Samsul, rasanya hambar. Amil selalu ingat asa mereka bersama untuk membentuk tim perjuangan. Mereka bersama-sama memaksa para veteran untuk merdeka. Masa yang ditunggu itu kini hampir tiba. Seluruh demonstrasi yang mereka lakukan nyaris usai.

Samsul cinta sekali ke Marsha, dia ingin pergi ke negeri Belanda bersama Marsha. Tapi, itu tidak mungkin.

Bung Karno dan Bung Hatta telah kembali dari Dalat. Para pemuda bersama Sutan Syahrir bersiap untuk mempersiapkan upacara proklamasi kemerdekaan yang akan diselenggarakan satu atau dua hari ke depan.

Satu masalah yang timbul menjelang proklamasi, yakni bendera merah-putih. Ibu Fatmawati ke sana kemari mendari kain warna merah di dalam lemari, namun tak kunjung menemukannya. Keponakan Ibu Fatmawati, yaitu Amil, mengetahui hal ini dan segera mencari kain berwarna merah. Gorden ruang tamu rumah yang berwarna



putih akan digunakan untuk menjahit bendera. Sekarang, saatnya mencari pasangannya.

Dalam perjalanan Amil ke pasar untuk mencari kain merah, ia bertemu dengan Samsul dan Ayahnya. Mereka sedang menarik gerobak loak yang hendak dijual. Mata Amil langsung tertuju kepada kain merah lebar di dalam gerobak tersebut. “Pak, ini kain merahnya saya bawa, ya.” ”Untuk apa?”

“Jahit bendera untuk upacara proklamasi besok.”

“Oh, boleh-boleh. Bawa saja, saya sudah tidak sabar menunggu hari esok. Saya pasti hadir.”

Kain merah yang hendak diberikan kepada Amil tersebut, segera direbut oleh Samsul. Amil mengeluh untuk memberikan kain tersebut kepadanya. Samsul hanya menatapnya pedih, kemudian ia berlari sangat kencang dari tempat Amil dan Ayah berdiri.

Amil tidak tinggal diam. “HEY!!” Samsul masih terus berlari meninggalkan Amil di belakangnya yang juga berlari. Mereka menyusuri jalan desa hingga ke jalan tersempit sekalipun. Orang-orang kalang kabut menatap mereka menerobos jalan. Beberapa kali menyerempet warga pasar karena jalan setapak yang sempit. Untung saja pengangkut air panas tidak jatuh saat diserempet Amil dan Samsul.

Akhirnya Samsul menyerah, ia berhenti di pinggir sungai; lokasi tongkrongan milik mereka berdua.

“Kamu tuh ngapain, sih, kembaliin kainnya!”

Samsul masih terdiam. Berbagai rasa terbentur dalam hatinya. Dia tidak mengerti dirinya. Entah apa yang dia lakukan.

Samsul mengatur napasnya perlahan, kemudian berkata, “baiklah, aku akan hadir besok ke upacara proklamasi. Aku akan tinggal di sini, bersama sahabatku membangun negeri tercinta.” Samsul menyingkirkan perasaan cintanya kepada Marsha. Dia yakin suatu hari, jikalau memang Tuhan berkehendak, Samsul akan bertemu dengan Marsha lagi. Dalam hati Samsul sadar, Marsha pun sadar, tanah mereka berpijak saja sudah berbeda, bagaimana mereka bisa bersatu.



Amil tertegun mendengar perkataan Samsul barusan. Mereka pun langsung berpelukan sebagai tanda bahwa persahabatan ini akan bersorak untuk negeri tercinta, Indonesia. Keesokan harinya, Bung Karno dengan lantang menyerukan proklamasi. Seluruh rakyat yang saat itu hadir tampak bersuka cita. Bendera merah putih telah berkibar, itulah hari di mana negeri ini terbentuk.


Comments

Popular Posts